Perumahan Mewah di Sawangan Depok

Sejarah Kota Depok: Dari Tanah Partikelir Cornelis Chastelein hingga Kota Modern

Pemandangan kota Depok dari udara dalam artikel sejarah kota depok di website ecotown.id

Tidak banyak kota di Indonesia yang punya sejarah seunik Depok. Kota yang hari ini menjadi salah satu pusat hunian terbesar di kawasan Jabodetabek ini punya akar sejarah yang sangat berbeda dari kota-kota lain di sekitarnya: ia pernah menjadi komunitas bebas yang dikelola oleh para keturunan budak yang dimerdekakan, jauh sebelum Indonesia merdeka.

Asal Mula: Tanah Cornelis Chastelein (1696)

Sejarah Depok modern dimulai pada tahun 1696 ketika Cornelis Chastelein, seorang pejabat VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang kaya, membeli sebidang tanah luas di selatan Batavia. Chastelein adalah sosok yang tidak biasa di antara pejabat kolonial Belanda: ia dikenal sebagai orang yang religius, memiliki prinsip etis yang kuat, dan memperlakukan budak-budaknya dengan cara yang sangat berbeda dari kebiasaan zamannya.

Lahan yang dibeli Chastelein membentang luas di kawasan yang kini kita kenal sebagai Kota Depok. Di sanalah ia mendirikan perkebunan dan komunitas yang ia namai Depok, kemungkinan berasal dari kata Sunda yang berarti “pertapaan” atau “tempat menyendiri.”

Warisan Revolusioner: Memerdekakan Para Budak

Ketika Chastelein meninggal pada 1714, ia meninggalkan surat wasiat yang sangat tidak lazim untuk zamannya. Dalam wasiat tersebut, ia memerdekakan seluruh budaknya yang berjumlah sekitar 150 orang dan memberikan tanah Depok kepada mereka secara kolektif.

Para budak yang dimerdekakan ini, yang kemudian dikenal sebagai orang Depok atau kaum Belanda Depok, berasal dari berbagai wilayah seperti Bali, Makassar, Nias, dan berbagai pulau lainnya. Mereka telah dibaptis menjadi Kristen Calvinis dan diberikan nama-nama Belanda yang hingga hari ini masih digunakan oleh keturunan mereka, seperti Jonathans, Loen, Bacas, Tholense, Samuel, Leander, Soedira, Isakh, Joseph, dan beberapa marga lainnya.

Komunitas ini mendirikan Gemeente Depok, semacam pemerintahan komunal yang mengatur kehidupan bersama di Depok. Mereka memiliki gereja, sekolah, dan struktur sosial yang mandiri, menjadikan Depok sebagai semacam komunitas otonom yang sangat unik dalam konteks kolonial Hindia Belanda.

Gemeente Depok: Komunitas Otonom yang Unik

Selama lebih dari dua abad, Depok berfungsi sebagai tanah partikelir yang dikelola oleh Gemeente Depok secara otonom. Mereka memiliki sistem hukum sendiri, memilih pemimpin mereka sendiri yang disebut Presiden Depok, dan berhasil mempertahankan karakter komunitas yang sangat khas.

Posisi unik Depok sebagai tanah partikelir yang bukan bagian langsung dari struktur kolonial Belanda memberikan kebebasan yang tidak dimiliki komunitas-komunitas lain di sekitarnya. Orang-orang Depok mengelola tanah, memelihara komunitas, dan menjalankan kehidupan sehari-hari dengan tingkat otonomi yang sangat tinggi untuk ukuran zamannya.

Gereja Immanuel yang dibangun pada abad ke-18 menjadi pusat spiritual dan sosial komunitas ini dan hingga hari ini masih berdiri di Depok Lama sebagai salah satu bangunan bersejarah yang paling penting di Depok.

Kedatangan Kereta Api dan Perubahan Besar (1871)

Tahun 1871 menandai babak baru dalam sejarah Depok. Jalur kereta api yang menghubungkan Batavia (Jakarta) dengan Buitenzorg (Bogor) melewati Depok dan sebuah stasiun dibangun di sini. Kehadiran stasiun ini mengubah Depok dari komunitas terisolasi menjadi wilayah yang terhubung ke jaringan transportasi yang lebih luas.

Orang-orang Belanda dan Eropa mulai membangun rumah-rumah peristirahatan di Depok karena udaranya yang lebih sejuk dibanding Batavia dan transportasinya yang sudah mudah. Kawasan yang sebelumnya murni milik komunitas orang Depok mulai berkembang dengan kedatangan pendatang baru.

Hingga kini, stasiun Depok Lama adalah salah satu stasiun kereta tertua di Indonesia dan menjadi bagian dari jaringan KRL Commuter Line yang melayani jutaan penumpang setiap harinya.

Masa Penjajahan Jepang dan Revolusi (1942-1949)

Pendudukan Jepang pada 1942 membawa perubahan besar pada kehidupan komunitas Depok. Orang-orang Belanda dan Eropa diinternir, termasuk sebagian besar keturunan orang Depok yang memiliki kewarganegaraan Belanda. Tanah-tanah partikelir mulai mengalami tekanan dari berbagai pihak.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 1945 dan perjuangan revolusi yang berlangsung hingga 1949, status tanah partikelir Depok menjadi persoalan yang kompleks. Banyak keturunan orang Depok yang memilih pindah ke Belanda, sementara sebagian lainnya memilih tetap tinggal dan menjadi warga negara Indonesia.

Transformasi Menjadi Kota Modern

Pada era 1950-an dan 1960-an, Depok masih berkarakter semi-rural dengan kawasan perkebunan yang luas dan populasi yang tidak terlalu besar. Universitas Indonesia yang dipindahkan dari Jakarta ke Depok pada 1987 menjadi katalis utama yang mengubah wajah kota ini secara dramatis.

Kehadiran UI membawa ribuan mahasiswa, dosen, dan staf yang membutuhkan hunian, fasilitas, dan infrastruktur. Kawasan di sekitar kampus UI berkembang pesat, dan gelombang pembangunan perumahan mulai merambah berbagai penjuru Depok.

Depok secara administratif menjadi Kota Madya (kemudian Kota) pada tahun 1999, memisahkan diri dari Kabupaten Bogor dan menjadi daerah otonom dengan walikota dan DPRD sendiri. Sejak saat itu, perkembangan Depok tidak pernah berhenti. Populasi yang pada 1999 sekitar 900 ribu jiwa kini sudah melampaui 2,4 juta jiwa, menjadikan Depok salah satu kota dengan pertumbuhan penduduk tercepat di Indonesia.

Depok Hari Ini: Warisan dan Modernitas

Depok modern adalah kota yang menarik karena kontras antara sejarahnya yang unik dan perkembangannya yang sangat dinamis. Di Depok Lama, Anda masih bisa menemukan jejak-jejak Gemeente Depok: Gereja Immanuel, makam Cornelis Chastelein, dan rumah-rumah tua yang dihuni keturunan orang Depok yang masih mempertahankan nama-nama marga Belanda mereka.

Di Depok baru, yang membentang dari Margonda hingga Sawangan dan dari Cimanggis hingga Cinere, sebuah kota modern dengan universitas-universitas besar, pusat perbelanjaan, perumahan-perumahan baru, dan infrastruktur yang terus berkembang menunjukkan wajah yang sangat berbeda tapi sama-sama menarik.

Kawasan Sawangan yang kini menjadi salah satu area paling dinamis di Depok, tempat berbagai proyek perumahan modern seperti Ecotown Sawangan berkembang pesat, adalah bagian dari narasi panjang sebuah kota yang terus bertransformasi tanpa melupakan akar sejarahnya yang sangat khas.

Tokoh-Tokoh Penting dalam Sejarah Depok

Cornelis Chastelein (1657-1714) adalah pendiri Depok modern yang keputusannya memerdekakan budak dan mewariskan tanah kepada mereka menjadi akar dari keunikan sejarah Depok yang tidak dimiliki kota lain di Indonesia.

Para Presiden Gemeente Depok yang memimpin komunitas orang Depok selama lebih dari dua abad adalah tokoh-tokoh yang berhasil mempertahankan identitas dan otonomi komunitas mereka di tengah tekanan kolonial yang sangat besar.

Prof. Dr. Fuad Hassan adalah salah satu tokoh penting dalam pemindahan Universitas Indonesia ke Depok, sebuah keputusan yang menjadi katalis utama transformasi Depok dari kota kecil menjadi kota besar.

Sejarah Depok adalah bukti bahwa kota-kota yang tampak biasa sering menyimpan narasi yang luar biasa di baliknya. Dari keputusan revolusioner seorang pejabat VOC pada 1714, Depok berkembang menjadi kota dengan jutaan penduduk, infrastruktur yang terus tumbuh, dan potensi ekonomi yang terus menguat. Memahami sejarahnya adalah cara terbaik untuk menghargai Depok tidak hanya sebagai tempat tinggal, tapi sebagai komunitas dengan identitas yang sangat khas.

Baca juga: Lagi Cari Tempat Nongkrong Keluarga di Depok Ini Beberapa Spot yang Layak Dicoba


Frequently Asked Questions (FAQ) Sejarah Kota Depok:

1. Mengapa Depok memiliki banyak warga dengan nama marga Belanda?

Ini adalah warisan langsung dari Cornelis Chastelein yang pada 1714 memerdekakan budak-budaknya dan mewariskan tanah Depok kepada mereka. Para budak yang dimerdekakan ini dibaptis dengan nama-nama Kristen Calvinis Belanda yang kemudian menjadi marga keturunan mereka hingga hari ini.

2. Kapan Depok resmi menjadi kota mandiri?

Depok resmi menjadi Kotamadya pada 27 April 1999 berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1999, memisahkan diri dari Kabupaten Bogor. Tanggal 27 April setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Jadi Kota Depok.

3. Di mana bisa melihat peninggalan sejarah Depok Lama?

Gereja Immanuel di Depok Lama adalah bangunan bersejarah paling penting. Di sekitarnya juga terdapat makam-makam tua dari era Gemeente Depok dan beberapa rumah tradisional yang masih dihuni keturunan orang Depok. Kawasan Depok Lama dapat dicapai dari Stasiun Depok Lama.

4. Apakah komunitas keturunan orang Depok masih ada?

Masih ada, meski jumlahnya sudah berkurang secara signifikan. Sebagian besar keturunan orang Depok beremigrasi ke Belanda setelah kemerdekaan Indonesia. Yang masih tinggal di Indonesia umumnya tersebar di beberapa kota, tidak hanya di Depok.

5. Kapan Universitas Indonesia pindah ke Depok?

Kampus UI Depok mulai beroperasi secara penuh pada 1987 setelah pembangunan kampus yang dimulai pada awal 1980-an. Pemindahan UI dari Salemba Jakarta ke Depok adalah salah satu keputusan terpenting yang mengubah trajektori perkembangan Depok sebagai kota.

6. Apa arti nama Depok?

Ada beberapa teori. Yang paling umum adalah bahwa Depok berasal dari kata Sunda yang berarti “pertapaan” atau “tempat menyendiri,” merujuk pada karakter awal kawasan ini sebagai tempat yang terpencil. Ada juga yang mengaitkannya dengan kata Melayu dengan makna serupa.