Orang yang bekerja dari rumah punya kebutuhan yang sangat berbeda dari orang yang hanya tidur dan makan di sana. Bagi yang WFH penuh atau hybrid, rumah bukan hanya tempat istirahat tapi juga tempat yang harus mendukung produktivitas selama 6-8 jam setiap hari kerjanya. Kriteria memilih rumah yang cocok untuk work from home pun berbeda dari checklist pembeli rumah biasa.
Kenapa Tidak Semua Rumah Cocok untuk WFH
Masalah yang paling sering dilaporkan oleh pekerja remote dalam survei yang dipublikasikan oleh Buffer dalam State of Remote Work Report adalah kesulitan memisahkan waktu kerja dari waktu istirahat, gangguan dari anggota keluarga lain, dan tidak adanya ruang yang bisa berfungsi sebagai area kerja yang proper.
Ketiga masalah ini semuanya sangat dipengaruhi oleh karakteristik fisik rumah, bukan hanya disiplin pribadi. Rumah yang tidak mendukung WFH akan membuat produktivitas turun meski penghuninya memiliki tekad yang kuat.
Kriteria Utama Rumah Cocok untuk Work From Home
Jumlah Kamar yang Memadai
Ini adalah kriteria paling mendasar. Bekerja di kamar tidur yang sama tempat tidur berada adalah sumber masalah produktivitas yang terdokumentasi. Sleep Foundation menjelaskan bahwa otak manusia secara kondisional mengasosiasikan kamar tidur dengan istirahat, dan bekerja di ruang yang sama merusak asosiasi ini sehingga kualitas tidur dan fokus kerja keduanya memburuk.
Rumah dengan satu kamar tambahan yang bisa difungsikan sebagai home office terpisah adalah minimum yang disarankan untuk WFH yang berkelanjutan. Satu kamar ini tidak harus besar, tapi harus bisa dikunci saat jam kerja untuk membatasi gangguan.
Ketenangan Kawasan di Jam Kerja
Noise pollution adalah gangguan produktivitas yang sering diremehkan saat survei properti yang biasanya dilakukan di akhir pekan. Kawasan yang tenang di Sabtu pagi bisa sangat berbeda karakternya di Senin siang hari kerja dengan lalu lintas truk, proyek konstruksi di sekitar, atau aktivitas komersial yang ramai.
Kunjungi properti yang diminati di hari Selasa atau Rabu jam 10 pagi untuk mendapat gambaran yang lebih akurat tentang tingkat kebisingan di jam-jam kerja.
Perumahan cluster dengan one gate system secara struktural lebih tenang dari perumahan yang terbuka karena tidak ada lalu lintas kendaraan sembarangan yang masuk. Ini adalah keunggulan yang sangat terasa bagi pekerja remote yang membutuhkan konsentrasi.
Kecepatan dan Stabilitas Internet
Tidak ada diskusi soal rumah cocok untuk work from home yang lengkap tanpa membahas internet. Untuk WFH yang melibatkan video call intensif, transfer file besar, atau akses ke sistem cloud, kecepatan minimal 20 Mbps adalah kebutuhan dasar dan 50-100 Mbps adalah yang lebih nyaman.
Yang perlu dicek sebelum membeli atau menyewa adalah ketersediaan provider fiber optik di kawasan tersebut. Bukan semua kawasan di Depok sudah terjangkau oleh jaringan fiber optik dari berbagai provider. Cek langsung ke IndiHome, Biznet, MyRepublic, dan First Media soal ketersediaan di alamat spesifik properti yang diminati.
Pencahayaan Alami yang Baik di Area Kerja
Penelitian yang dipublikasikan oleh Cornell University Ergonomics Web menunjukkan bahwa pekerja yang mendapat paparan cahaya alami yang cukup di tempat kerjanya memiliki tingkat kelelahan mata 51% lebih rendah dan kualitas tidur malam yang lebih baik dibanding yang bekerja di ruangan dengan pencahayaan buatan saja.
Untuk rumah WFH, orientasi jendela di ruang kerja yang mendapat cahaya alami cukup tanpa silau langsung ke layar adalah detail yang perlu diperhatikan saat survei.
Sirkulasi Udara yang Memadai di Ruang Kerja
Kualitas udara dalam ruangan secara langsung mempengaruhi konsentrasi dan produktivitas. Ruang kerja yang pengap dan panas membuat jam kerja ke-4 atau ke-5 terasa jauh lebih berat dari yang seharusnya. Jendela yang bisa dibuka, ventilasi silang, dan ruang kerja yang tidak terlalu sempit adalah kombinasi yang menciptakan lingkungan kerja yang lebih segar.
Tipe Properti yang Paling Mendukung WFH
Rumah tapak dua lantai di kawasan tenang adalah format yang paling mendukung WFH jangka panjang. Lantai atas bisa sepenuhnya difungsikan sebagai zona privat dengan ruang kerja yang terpisah dari area keluarga di lantai bawah.
Untuk yang memilih rumah tapak di kawasan cluster, ketenangan kawasan yang sudah built-in dari sistem one gate memberikan nilai tambah yang sangat terasa di hari-hari kerja. Ditambah dengan fasilitas outdoor seperti taman dan area duduk yang bisa digunakan untuk istirahat di sela jam kerja, kualitas work-life yang didapat jauh lebih baik dari bekerja di apartemen sempit tanpa ruang outdoor.
Di kawasan Sawangan, Hannam di Ecotown Sawangan dengan tipe Luxe Maison (8x16m) ke atas memberikan luas yang cukup untuk mengakomodasi ruang kerja terpisah tanpa harus berkompromi dengan kebutuhan ruang keluarga. Kawasan cluster dengan keamanan 24 jam dan lingkungan yang tenang adalah lingkungan yang sangat mendukung produktivitas WFH sehari-hari. Untuk kebutuhan komersial, ruko Sinsa di kawasan yang sama tersedia bagi yang memerlukan ruang kerja atau kantor kecil yang terpisah dari hunian.
Baca juga: Strategi Investasi Properti untuk Pemula: Panduan Mulai dari Nol Tanpa Salah Langkah
Frequently Asked Questions (FAQ) Rumah Cocok untuk Work From Home:
1. Apakah apartemen studio bisa dijadikan tempat WFH yang produktif?
Bisa tapi dengan banyak kompromi. Studio yang terlalu kecil membuat batas antara area kerja dan area istirahat hampir tidak ada, yang berdampak pada produktivitas dan kualitas istirahat dalam jangka panjang. Jika memilih apartemen untuk WFH, minimal pilih tipe 1 kamar tidur yang memisahkan area tidur dari area kerja.
2. Berapa biaya membangun home office yang proper di dalam rumah?
Renovasi sederhana untuk mengubah kamar kosong menjadi home office yang fungsional bisa dimulai dari Rp 5-15 juta untuk meja kerja built-in, pencahayaan yang baik, dan penanganan akustik dasar. Investasi ini hampir selalu worth it dibanding produktivitas yang hilang dari bekerja di ruang yang tidak kondusif.
3. Bagaimana cara memastikan koneksi internet stabil sebelum membeli properti?
Minta izin ke pemilik atau developer untuk melakukan speed test menggunakan HP saat survei. Perhatikan juga apakah ada provider fiber optik yang sudah terpasang di kawasan dengan cara menanyakan ke penghuni yang sudah ada, karena ketersediaan di kawasan berbeda dengan ketersediaan di alamat spesifik.


